​*REVISI UU PERIKANAN JAUH DARI KESEJAHTERAAN DAN KEADILAN BAGI NELAYAN*

*By: Rusdianto Samawa, Anak Petani Petambak Garam dan Bandeng serta Aktif di Divisi Buruh Tani dan Nelayan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PPM)*

Susi Pudjiastuti dan bersama DPR mengajukan revisi UU Perikanan. Harapan nelayan UU ini akan menemukan sebuah keadilan dalam realitasnya nanti. Namun, hipotesis itu tak akan bisa hadir kalau nelayan maupun rakyat saja di cekik oleh pemerintah dengan kesulitan mendapatkan bahan pangan berupa ikan sebagai kebutuhan makanan pokok.
Revisi UU Perikanan sebetulnya harus berlandaskan keadilan, kesejahteraan dan transparansi agar dapat mengembangkan nelayan kecil dan pelaku tradisional.
Akan tetapi, menyaksikan perilaku kebijakan Susi Pudjiastuti saat ini aangat tidak berprikemanusiaan.
Kinerja menteri harusnya bisa menyentuh permasalahan mendasar dan bukan hanya pada level permukaan dan pencitraan dengan membayar media mainstream.

Masalah mendasar pada sektor maritim mulai dari perikanan tangkap, budi daya ikan tambak, hingga tambak garam yang belum terselesaikan antara lain sarana pelabuhan perikanan dan tempat pelelangan ikan (TPI), akses pasar dan modal, kelembagaan nelayan, konflik wilayah tangkap, perlindungan dan jaminan sosial nelayan, dan lainnya.
Jumlah nelayan dan petambak garam mencapai 7 juta orang, maka regulasi yang mengatur masalah kemaritiman harus benar dan menyentuh permasalahan yang mendasar.

Sekarang harus mengevaluasi Menteri Susi Pudjiastuti yang hanya lakukan pencitraan semata. Ini merupakan momentum evaluasi bagi semua pihak agar slogan Indonesia Poros Martim tidak hanya sekedar doktrin, namun dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan potensi maritim yang ada harusnya derajat dan kesejahteraan nelayan dan petambak garam bisa terangkat dan lebih sejahtera.

Revisi UU Perikanan disinyalir hanya menjadi ajang kepentingan besar para tengkulak di laut nusantara. Esensi revisi bisa hilang ketika aspek kesejehateraan nelayan terlupakan. Apalagi di tambah dengan pelarangan Cantrang sehingga berpengaruh pada kualitas produksi.
Bagaimana bisa revisi UU Perikanan fokus pada produksi, apabila Susi Pudjiastuti saja melalui KKP yang di pimpinnya melakukan offside kebijakan dengan menerbitkan semua keputusan PERMEN yang bersifat menindas rakyat dan nelayan.
Sementara Susi Pudjiastuti ingin berbohong kepada rakyat dan nelayan serta petambak bahwa revisi UU Perikanan merupakan kebutuhan cepat.

Ini sangat tidak singkron, mengapa? Revisi UU Perikanan inginkan produksi lebih banyak untuk meningkatkan daya beli dan volume bisnis penjualan. Namun perilaku Susi Pudjiastuti saja sudah melanggar UUD 1945 pasal 1, 2 dan 3 tentang pelarang Cantrang.
Coba bayangkan saja bahwa data perusahaan nasional swasta yang mengalamai kerugian tidak bisa berproduksi akibat kebijakan Susi Pudjiastuti, sebanyak 16 perusahaan dengan total Investasi dalam hitungan dollar ($) sebesar Rp. 115.050.000.000, sementara nilai penjualan pertahun dari 16 perusahaan tersebut dalam hitungan dollar sebanyak Rp. 188.600.000.000. tentu jumlah dalam jumlah besar itu membutuhkan karyawan sekitar 7725 orang dengan ditambahnya Volume Produksi sebanyak 81750 ton perhari. Berikut rincian perusahaan – perusahaan yang berada di Bawah Surimi yang beroperasi menunjang perekonomian rakyat dan nelayan-nelayan:
1). PT. Southern Marine Product beralamat di Probolinggo dengan total investasi pertahun ($) berjumlah Rp. 10.400.000, sementara nilai penjualannya sebesar Rp. 15.000.000 berserta jumlah tenaga kerja yang pakai sebanyak 525 di tambah dengan volume produksi sebesar 6300 Ton.

2). PT. Bintang Karya Laut beralamat di Rembang dengan total investasi pertahun ($) berjumlah Rp. 9.100.000, sementara nilai penjualannya sebesar Rp.15.900.000 berserta jumlah tenaga kerja yang pakai sebanyak 570 di tambah dengan volume produksi sebesar 6600 Ton.

3). PT. Java Seafood beralamat di Indramayu dengan total investasi pertahun ($) berjumlah Rp. 18.600.000, sementara nilai penjualannya sebesar Rp.12.000.000 berserta jumlah tenaga kerja yang pakai sebanyak 480 di tambah dengan volume produksi sebesar 5250 ton.

4). PT. Kelola Mina Laut beralamat di Tuban dengan total investasi pertahun ($) berjumlah Rp. 6.500.000, sementara nilai penjualannya sebesar Rp.13.500.000 berserta jumlah tenaga kerja yang pakai sebanyak 510 di tambah dengan volume produksi sebesar 5700 ton.

5). PT. Sinar Bahari Agung beralamat di Kendal dengan total investasi pertahun ($) berjumlah Rp. 4.500.000, sementara nilai penjualannya sebesar Rp.10.200.000 berserta jumlah tenaga kerja yang pakai sebanyak 450 di tambah dengan volume produksi sebesar 4500 ton.

6). CV. Sinar Mutiara Abadi beralamat di Rembang dengan total investasi pertahun ($) berjumlah Rp. 4.000.000, sementara nilai penjualannya sebesar Rp.9.750.000 berserta jumlah tenaga kerja yang pakai sebanyak 455 di tambah dengan volume produksi sebesar 4500 ton.

7). PT. Starfood International beralamat di Lamongan dengan total investasi pertahun ($) berjumlah Rp. 8.000.000, sementara nilai penjualannya sebesar Rp.19.800.000 berserta jumlah tenaga kerja yang pakai sebanyak 675 di tambah dengan volume produksi sebesar 8400 ton.

8). PT. QL Hasil Laut beralamat di Lamongan dengan total investasi pertahun ($) berjumlah Rp. 19.000.000, sementara nilai penjualannya sebesar Rp.25.500.000 berserta jumlah tenaga kerja yang pakai sebanyak 700 di tambah dengan volume produksi sebesar 10.500 ton.

9). PT. Holi Mina Jaya beralamat di Rembang dengan total investasi pertahun ($) berjumlah Rp. 9.700.000, sementara nilai penjualannya sebesar Rp.14.700.000 berserta jumlah tenaga kerja yang pakai sebanyak 585 di tambah dengan volume produksi sebesar 6000 ton.

10). PT. Indo Seafood beralamat di Rembang dengan total investasi pertahun ($) berjumlah Rp. 3.700.000, sementara nilai penjualannya sebesar Rp.10.500.000 berserta jumlah tenaga kerja yang pakai sebanyak 480 di tambah dengan volume produksi sebesar 4500 ton.

11). PT. Blue Sea Industry beralamat di Pekalongan dengan total investasi pertahun ($) berjumlah Rp. 4.000.000, sementara nilai penjualannya sebesar Rp.10.200.000 berserta jumlah tenaga kerja yang pakai sebanyak 450 di tambah dengan volume produksi sebesar 4500 ton.

12). PT. Nam Kyung Korea Indonesia beralamat di Tegal dengan total investasi pertahun ($) berjumlah Rp.3.650.000, sementara nilai penjualannya sebesar Rp.5.300.000 berserta jumlah tenaga kerja yang pakai sebanyak 420 di tambah dengan volume produksi sebesar 2250 ton.

13). PT. Indo Lautan Makmur beralamat di Sidoarjo dengan total investasi pertahun ($) berjumlah Rp. 4.600.000, sementara nilai penjualannya sebesar Rp.7.200.000 berserta jumlah tenaga kerja yang pakai sebanyak 390 di tambah dengan volume produksi sebesar 4500 ton.

14). PT. Maya Food beralamat di Pekalongan dengan total investasi pertahun ($) berjumlah Rp. 2.600.000, sementara nilai penjualannya sebesar Rp.6.900.000 berserta jumlah tenaga kerja yang pakai sebanyak 360 di tambah dengan volume produksi sebesar 3000 ton.

15). PT. Andaman Delmar beralamat di Rembang dengan total investasi pertahun ($) berjumlah Rp. 3.300.000, sementara nilai penjualannya sebesar Rp.6.750.000 berserta jumlah tenaga kerja yang pakai sebanyak 345 di tambah dengan volume produksi sebesar 3000 ton.

16). PT. Tridaya Jaya Manunggal beralamat di Pasuruan dengan total investasi pertahun ($) berjumlah Rp. 3.400.000, sementara nilai penjualannya sebesar Rp.5.400.000 berserta jumlah tenaga kerja yang pakai sebanyak 330 di tambah dengan volume produksi sebesar 2250 ton.

Dari 16 perusahaan swasta anak negeri ini gulung tikar dan tak mampu bertahan lagi. Para pekerjanya telah di rumahkan untuk sementara waktu.
Artinya Susi Pudjiastuti telah melakukan kezaliman terhadap kaum pribumi dan mejajah rakyatnya. Ke 16 perusahaan itulah membawahi ratusan ribu pekerja yang bergantung hidupnya.

Catatan Penting bahwa hasil tangkapan nelayan Cantrang di pantura Jawa meliputi area Tegal, Pekalongan, Batang, Juwono, Rembang dan Brondong dan sekitarnya adalah:

1). Volume produksi finish produk surimi sebanyak 81.750.000 KG . Setara dengan bahan baku sebanyak = 340.625.000 KG pertahun dengan nilai manfaat sebesar = Rp 2.152.750.000.000/th.

2). Jenis bahan baku untuk proses surimi terdiri dari jenis ikan : Kurisi, swangi/ mata lebar, kapasan, kuniran, cokelatan, bloso, dll

3). Selain pelaku bisnis pengolahan surimi, juga ada pelaku bisnis ikan frozen untuk eksport dengan kuantitas sebesar = 151.390.000 kg pertahun. Dengan nilai manfaat sebesar = Rp. 956.784.800.000 /th.

4). Dan juga pelaku bisnis pengolah lokal yang dijual di pasar domestik dengan kuantitas sebesar = 264.930.000 kg Pertahun, dengan nilai manfaat sebesar = Rp 1.674.357.600.000 pertahun.

5). Selain itu juga ada pelaku bisnis pakan ternak dengan kuantitas sebesar = 238.620.000 kg pertahun, dengan nilai manfaat sebesar = Rp 715.860.000.000 pertahun.

Kalau perusahaan bisnis Surimi di ukur volume (kg) produksi maka sebanyak 340.625.000 (34,2%) dengan nilai manfaat yang bisa di dapatkan oleh Negara adalah 2.152.750.000.000 atau setara (39,1%).

Sementara pelaku ekspor impor ikan Frozen bervolume Rp. 151.390.000 perhari atau (15,2%) dengan nilai manfaat sebesar Rp. 956.784.800.000 atau (17,4%).

Kalau dihitung juga Pengolahan ikan Lokal maka volume produksi capai Rp. 264.930.000 Dollar atau (26,6%) dan ditambah dengan nilai manfaat sebesar Rp. 1.674.357.600.000 atau (30,4%).
Belum lagi kerugian yang di timbulkan oleh pelaku pakan ternak local. Dimana mereka sebelumnya produksi pakan ternak dengan menghasilkan keuntungan sebanyak Rp. 238.620.000 (24,0%) dengan nilai manfaat sebesar Rp. 715.860.000.000 atau setara (13,1%).
Total keseluruhan mereka produksi sebelum adanya kebijakan Susi Pudjiastuti adalah sebesar Rp. 995.565.000 Dolar dengan 100% diserahkan pajak kepada Negara. Sementara nilai manfaat secara keseluruhan mereka dapatkan sebelum itu sebanyak Rp. 5.499.752.400.000 Dolar atau kurang lebih (100%). Namun, setelah adanya kebijakan Susi Pudjiastuti dengan melarang Cantrang dan alat tangkap lainnya. Maka berbagai perusahaan nasional swasta ini rontok dan berdampak pada pengangguran yang sangat luar biasa. Ini adalah kejahatan yang dilakukan Susi Pudjiastuti.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s