Penyebab Tawuran di Ibu Kota

​

Mercusuardaily24
Ilustrasi: Foto Antara/Ridwan

Mercusuardaily24, Jakarta: Tawuran masih belum punah dari Ibu Kota. Kadang mereda, kadang memanas. Warga kerap terlibat perseteruan tanpa mengetahui pasti awal permasalahan.

 
“Enggak tahu pemicunya apa. Kalau tahu mungkin kita sudah menyelesaikannya,” ujar Kanit Binmas Polsek Menteng, Kompol Santoso, saat berjaga di kawasan Tambak, Jakarta Pusat, Selasa 7 Maret 2017.
 
Seorang warga Tambak, Reni, 52, mengatakan, tawuran di daerahnya diduga karena dendam. Sebab, insiden itu kerap merenggut nyawa. Tawuran terjadi turun menurun. “Di sini tawuran sudah turun menurun,” kata Reni.
 
Kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, menjadi salah satu daerah yang rawan tawuran. Warga Tambak sering terlibat tawuran dengan warga Manggarai.
 
Pendiri komunitas pemuda Warung Inspirasi (Waris), Randy Rahmadi, 25, mengungkapkan beberapa motif tawuran yang pernah terjadi. Ia menduga tawuran dipicu masalah klasik.
 
“Analisa pribadi saya, mungkin dipicu kejadian yang sudah-sudah. Apalagi ada korban jiwa,” kata Randy.
 
Motif adu kuat biasanya berujung pada perpecahan. Seperti tawuran yang melibatkan pemuda Kelurahan Pegangsaan, Manggarai, dan Matraman. Mereka terlibat perebutan kekuasaan.
 
“Kebetulan di sini perbatasan Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur,” ujar Randy.

http://www.metrotvnews.com/embed/8koXAWDK

 
Motif ini biasanya dilatarbelakangi masalah ekonomi. Dengan kekuasaan, kelompok terkuat bisa mendapatkan pemasukan dengan cara premanisme.
 
“Jadi perebutan lahan parkir. Mindset mereka adu kuat supaya orang ngasih uang ke dia. Kalau sudah kuat kan orang mau dagang setoran,” ujar Randy.
 
Motif lainnya soal Pilkada DKI. Randy menduga ada penggerak yang sengaja membuat situasi memanas.
 
“Logikanya, kemarin tawuran satu jam. Durasi satu jam itu petasan nonstop. Kita lihat dari harga petasan Rp20-25 ribu per lima kali tembak. Durasi lima kali shoot 10-15 detik. Logikanya, orang menengah ke bawah buat apa beli petasan sebanyak itu,” papar dia.
 
Kata Randy, tawuran antar warga karena motif tersebut pernah terjadi saat Pilpres 2014. “Makanya saya berharap putara kedua (Pilkjad DKI) cepat selesai,” kata Randy.
 
Motif terakhir adalah menutupi adanya transaksi narkoba. Dengan demikian, fokus polisi teralihkan. “Pengalaman saya nanganin konflik (tawuran) memang ada (kasus narkoba),” ujar Randy.
 
Randy mengaku pernah tawuran ketika SMA. Bandar narkoba biasanya memanfaatkan geng-geng pemuda untuk menyamarkan aksi mereka.
 
“Bandar narkoba lihat peta kaya gini masyarakat, tinggal bikin jejaring untuk masuk, digesek pecah,” ucap Randy.
 

Daerah lainnya yang rawan tawuran ada di Kelurahan Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat. Daerah ini menjadi perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta karena tawuran terjadi tanpa melihat waktu.
 
Tokoh masyarakat Tanah Tinggi, Zuherman Tanjung, mengatakan, tawuran seperti agenda rutin. Namun, masalah tawuran sulit dicari akarnya.
 
“Apa penyebabnya? Apa permasalahannya? Enggak tahu. Bahkan yang tawuran saja ditanya enggak ngerti,” kata Zuherman.
 
Zuherman menuturkan, dendam tak berkesudahan diduga menjadi alasan tawuran. Karena, tawuran memakan kadang menelan koraban jiwa.
 
“Dia ngajak temennya atas nama solidaritas kawan ikut-ikutan, kalau enggak ikut, enggak enak,” kata Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Johar Baru itu.
 
Mirisnya, kebiasaan tawuran di Tanah Tinggi tak membuat warga resah. Kata Zuherman, warga malah patungan membeli petasan untuk tawuran.
 
Lurah Tanah Tinggi, Sutami, belum menemukan jawaban penyebab tawuran. Setiap usai tawuran, ia langsung memanggil Ketua RT dan RW yang terlibat tawuran. Namun, tak ada jawaban memuaskan.
 
“Tapi ketika saya konfirmasi ke  RT RW, bapak dan ibu yang sudah puluhan tahun di sini, enggak kenal sama warga yang tawuran. Mereka saling menyalahkan,” jelas Sutami.
 
Mengamati fenomena di daerahnya, Sutami menilai, pengangguran jadi penyebab pemuda melakukan tawuran. “Di sini banyak geng, ada geng Ababon (Anak Bawah Pohon), ada banyak. Tapi saya kira, (tawuran) karena di sini rata-rata anak muda menganggur,” kata Sutami.
 
Karena menganggur, pemuda di daerahnya memiliki kelebihan energi yang tak tersalurkan. Hal itulah yang membuat anak muda mudah tersulut melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti tawuran.
 
“Kalau ada apa-apa mereka ingin bergerak, terpicu untuk marah ribut segala macam. Coba orang bekerja, biasanya kalau pulang kerja malamnya langsung istirahat karena kondisi lelah,” jelas Sutami.


 
Pengamanan Polisi 
 
Polisi gabungan dari Polda Metro Jaya, Polres Jakarta Selatan, Polres Jakarta Pusat, dan Polsek Menteng, kerap melakukan razia di daerah Tambak dan Manggarai. Polisi menggeledah beberapa lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyian pelaku dan penggerak tawuran.
 
Hasilnya, sembilan orang ditangkap dan lima orang masuk daftar pencarian orang (DPO). Polisi juga menemukan senjata tajam, senjata api, senapan angin, alat menggunakan narkoba, dan sisa-sisa penggunaan narkoba.
 
Kepolisian juga belum menemukan pemicu tawuran. Dugaan sementara, tawuran karena perselisihan kelompok di dua wilayah itu.
 
“Dipicu bunyi petasan. Apakah itu latar belakang peristiwa tawuran terus kita dalami. Kita coba cari solusi hingga kemudian hari tidak terulang,” kata Wadirkrimum Polda Metro Jaya AKBP Didik Sugiarto.
 
Solusi yang ditawarkan warga
 
Randy mencoba menawarkan solusi,. Caranya melalui Warung Inspirasi (Waris). Pemuda yang sering berkerumun menjadi mudah dimobilisasi, baik oleh kelompok politik tertentu atau bandar narkoba.
 
Waris kini mewadahi 185 pemuda dari empat kelurahan: Pegangsaan, Menteng, Manggarai, dan Matraman. Waris berusaha menyalurkan kegiatan pemuda berdasarkan hobi, seperti musik, kuliner, bermain game, dan mendesain baju.
 
“Dengan sosial mapping yang saya buat, mengubah yang tadinya berkerumun jadi berbaris,” ucapnya.
 
Waris selama ini berjalan dengan sistem swadaya. Randy berharap Pemprov DKI bersedia kerja sama.
 
Randy menceritakan, Pemprov DKI beberapa kali melibatkan Waris untuk memberi penyuluhan pada pemuda. Namun program itu belum berkelanjutan.
 
“Waktu peresmian enam RPTRA (ruang publik terpadu ramah anak) pertama di Jakarta, Pak Ahok mengajak saya, tapi sekarang belum lagi,” ungkapnya.
 
Lurah Tanah Tinggi Sutami mengatakan, perhatian pemerintah sudah terfokus ke daerahnya. Ada anggaran khusus untuk melakukan pelatihan pemberdayaan masyarakat di Tanah Tinggi.
 
Hanya saja, pelatihan dirasa percuma jika tanpa tindak lanjut. “Pelatihan sudah dilakukan. Tapi pemuda yang ikut pelatihan ini tidak disalurkan,” ujar Sutami.
 
http://www.metrotvnews.com/embed/aNrJrZVN

Sumber: Metrotvnews.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s