​REVISI:CANTRANG RAMAH LINGKUNGAN DAN DAMPAK PELARANGANNYA MELALUI PERMEN NO. 71/ PERMEN-KP/2016, SUSI KEBLINGER

By: Rusdianto Samawa, Divisi Advokasi Buruh Tani dan Nelayan Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Mercusuardaily24-Gerakan penyadaran terhadap upaya pencitraan Susi Pudjiastuti harus terus dilakukan. Agar masyarakat tidak terbuai dengan pencitraannya. Karena selama ini Susi Pudjiastuti telah membuat rakyat dan nelayan pengangguran dan jatuh miskin.
Menanggapi aspirasi nelayan dan pengaduan masyarakat pelaut nusantara pada Divisi Advokasi Buruh Tani dan Nelayan Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PPM) serta pengusaha industri pengelolaan ikan dan pelaku usaha lainnya di bidang perikanan yang berasal dari Kabupaten Rembang yang terkait dengan pelaksanaan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dengan No. Nomor 71/PERMEN-KP/2016 Perihal Larangan Penggunaan Alat Tangkap Cantrang di Wilayah Pengelolaaan Perikanan Negara Republik Indonesia yang telah diundangkan pada tahun 2016.

Alat tangkap Cantrang (istilah alat untuk wilayah di Jawa Tengah) dalam pengertian umum digolongkan pada kelompok Danish Seine yang terdapat di Eropa dan beberapa di Amerika. Dilihat dari bentuknya alat tangkap tersebut menyerupai payang tetapi ukurannya lebih kecil.
Cantrang merupakan alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan demersal yang dilengkapi dua tali penarik yang cukup panjang yang dikaitkan pada ujung sayap jaring. Bagian utama dari alat tangkap ini terdiri dari kantong, badan, sayap atau kaki, mulut jaring, tali penarik (warp), pelampung dan pemberat dari kayu.
Alat tangkap Cantrang merupakan alat tangkap yang produktif dan efisien untuk mendapatkan hasil dengan nilai ekonomis yang tinggi. Alat tangkap ini juga merupakan alat tangkap yang modern dan fleksibel, karena alat ini dapat dioperasikan oleh semua kalangan nelayan, baik usaha perikanan yang berskala kecil (bakul eceran) maupun yang berskala besar (pabrik-pabrik pengalengan).

Melihat kembali potensi sumberdaya perairan yang merupakan modal negara kita yang tersedia dalam jumlah banyak masih perlu digali untuk dikembangkan dan dimanfaatkan dengan tetap mempertahankan aspek kelestariannya, pemanfaatan sumberdaya perikanan ini sangat erat kaitannya dengan teknologi perikanan yang kita miliki.

Beraneka ragamnya jenis-jenis biota laut yang sifatnya berbeda-beda serta kondisi perairan yang tidak sama, jelas memerlukan alat tangkap dengan teknologi yang berbeda-beda pula untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Pemilihan jenis alat tangkap yang cukup produktif harus tetap memperhatikan sumber daya perairan yang ada, dari berbagai jenis alat tangkap yang ada dan dengan fungsi yang berbeda-beda.
Bahwa besarnya peningkatan potensi ikan pelagis atau mata merah atau demang konteng di Indonesia, maka tidak mustahil perikanan Cantrang juga menyesuaikan.

Mata jaring untuk tiap bagian Cantrang tidak boleh terlampau kecil sehingga ikan-ikan terkecil tidak ikut tertangkap. Tujuannya untuk menjaga kelestarian laut dan generasi ikan itu sendiri. Sehingga generasi ikan-ikan bagus yang diharapkan tidak akan habis dan punah.
Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kegiatan penangkapan agar terus menerus dilaksanakan tanpa ada resiko habisnya stok ikan di perairan laut yang telah di tentukan itu.

Peningkatan produksi sumberdaya perikanan pelagis atau mata merah atau demang konteng dapat dilakukan pengawasan dan peningkatan unit penangkapan yang produktif, sehingga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dan pengoperasian alat tangkap berjalan secara efektif dan efisien.

Susi Keblinger: Dampak Negatif Perekonomian dan Meningkatnya Tenaga Kerja PHK
Dengan berlakunya Permen-KP Nomor 71/PERMEN-KP/2016 Perihal Larangan Penggunaan Alat Tangkap Cantrang di Wilayah Pengelolaaan Perikanan Negara Republik Indonesia, berdampak pada sejumlah kapal-kapal.
Ada kapal berjumlah 302 yang menggunakan Cantrang di wilayah Kabupaten Rembang tidak dapat melakukan kegiatan penangkapan ikan karena Susi telah melarangnya. 
Sementara itu, ada 1.430 buah alat tangkap dogol tidak bisa di oprasikan karena Susi juga melarangnya. Lalu ada 4 buah payang tidak dapat dioperasikan dan 300 kapal pencari rebon untuk bahan terasi tidak dapat diopesasikan.
Kemudian, tenaga kerja yang di PHK akibat kebijakan menteri Susi Pudjiastuti akan kehilangan mata pencaharian di bidang penangkapan ikan di Kabupaten Rembang sebesar 12.424 orang yang terdiri dari ABK kapal cantrang sebanyak 4.832 orang, ABK dogol 5.720 orang, ABK payang 72 orang dan ABK kapal pencari rebon sebanyak 300 orang. Disamping itu tenaga kerja yang beraktifitas di pelabuhan Perikanan Tasik Agung Rembang sebanyak 1.500 orang per hari terancam kehilangan pekerjaan.
Di sisi lainnya, sebanyak 10 perusahaan indrustri pengelolaan ikan komoditas Ekspor di Kabupaten Rembang sudah gulung tikar karna kekurangan bahan baku dan akan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) sekitar 7.000 orang.
Kemudian, sebanyak 104 industri pengelola ikan skala kecil di Kabupaten Rembang terancam berhenti berproduksi dan berdampak pada 5.200 orang tenaga kerja kehilangan mata pencaharian.
Belum lagi pedagang bakul-bakul ikan eceran yang dijajakan ke pasar-pasar atau kampung-kampung akan kehilangan pekerjaan karena barang yang dijual sudah tidak ada lagi.
 Pekerjaan ini biasa di lakukan oleh ibu-ibu rumah tangga.
Bukan hanya itu, akibat dan dampak kebijakan Susi Pudjiastuti telah terjadi pengurangan permintaan perbekalan kapal meliputi kebutuhan bahan pokok, solar, Es, Air bersih, dll, sehingga berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat nelayan sangat besar dampaknya dan terjadinya pengangguran sebagaimana rinciannya, adalah:

1). Kapal Cantrang berjumlah 302, alat tangkap sekitar 16 dan tenaga kerjanya berjumlah 4.832 orang.
2). Perahu Dogol sekitar 1.430 dan jumlah tenaga kerja berkisar 7.150 orang.
3). Kapal Payang ada 18 buah dan tenaga kerjanya sekitar 72 orang.
4). Pencari Rebon adah 300 buah kapal dengan jumlah tenaga kerjanya sebesar 1.200 orang.
5). Tenaga bongkar ikan sebanyak 1500 orang.
6). Pengurus Kapal ada sekitar 306 orang.
7). Tenaga Angkutan Tossa dari 306 kapal, maka ada 612 orang tenaga angkutnya.
8). Penjual warung nasi ada sekitar 100 orang.
9). Penjaja kue berkisar 100 orang.
10). Pengurus basket/tempat ikan pemeliharaan ikan sejumlah 10 tempat yang terdiri dari 25 orang persatu tempat. Berarti ada 250 orang.
11). Perusahaan pengolahan ikan ekspor berkisar 10 perusahaan dengan tenaga kerja per perusahaan sekitar 700 orang. Maka ada 7000 orang sekaligus alami pengangguran.
12). Pengolah ikan skala kecil sebanyak 104 tempat dengan jumlah tenaga kerjanya 55 orang. Berarti alami pengangguran audah 5720 orang.
13). Bakul ikan eceran ada 2500 orang dan sekarang menganggur.
14). Penyedia jasa air bersih ada 155 tempat dan yang bertugas ada 2 orang sehingga berjumlah 310 orang.
15). Tenaga penggepuk es ada 7 tempat dengan rincian 25 orang per tempat sehingga berjumlah 175 orang.
Dampak perekonomian lain di wilayah Kabupaten Rembang apabila larangan alat tangkap cantrang diberlakukan setelah masa tenggangnya: 1). Pabrik pembuat bahan alat tangkap cantrang akan tutup; 2). Tenaga penjurai pembuat mata jaring yang dikampung akan kehilangan pekerjaan; 3). Tenaga perangkai alat cantrang akan kehilangan pekerjaan; 4). Pabrik surimi dimungkinkan akan tutup/gulung tikar karena kekurangan bahan baku 5). Pedagang sembako, buah, kue-kue, dll yang mensuplai perbekalan kapal pada saat akan melaut akan kehilangan pelanggan dan mengakibatkan berkurangnya penghasilan.

Dari dampak perekonomian dan tenaga kerja diatas akan berakibat pada akan terjadi masyarakat Tuna Wisma karena rumah banyak yang Tersita oleh Bank karena kredit Macet dimana para pemilik kapal yang sifatnya tidak perorangan yaitu kelompok orang-orang antara 4 – 10 orang untuk membeli 1 kapal adalah mengambil kredit bank dengan menjaminkan rumah yang ditempatinya begitu juga dengan para pengusaha tidak lepas dari kredit bank.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas PERMEN-KP Nomor 71/PERMEN-KP/2016 untuk ditinjau kembali dan harus dicabut atau ada upaya di revisi khusus pasal alat tangkap cantrang, dogol, payang dan alat pencari rebon dapat dioperasikan kembali di WPPN-RI dengan berbagai penyempurnaan regulasi.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s